Skip to main content

Halo-halo Bandung

Ibu Kota Periangan

Halo-halo Bandung

Kota kenang-kenangan

Sudah lama beta

Tidak berjumpa dengan kau

Sekarang telah menjadi lautan api

Mari Bung rebut kembali!


Lagu Halo-Halo Bandung gubahan Ismail Marzuki menjadi dokumentasi penting kemasyhuran kata Bung dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Kita tidak tahu tahun mula kata Bung menyusup ke kamus-kamus, koran, majalah, buku, atau bahkan ucapan orang-orang. Tapi, kita bisa mengajukan kamus lawas susunan Sasrasoeganda, Baoesastra Melajoe-Djawa (1916), sebagai bukti bahwa kata Bung telah berusia lebih dari satu abad. Di halaman 67, Sasrasoeganda menjelaskan kata Bung dalam bahasa Melayu memiliki empat makna dalam bahasa Jawa. Salah satunya, yang kemudian juga diamini Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah makna yang keempat, “abang, kang, kakang, temb. pengoendang [kata sapaan].”


Meski begitu, kata Bung baru populer setelah diperkenalkan Soekarno. Simaklah pengakuannya dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (edisi revisi, Cindy Adams, 2014): “Di zaman feodal kami tidak memiliki bentuk panggilan kekerabatan yang berlaku luas seperti Mister atau Mistress atau Miss, yang dapat mencakup seluruh lapisan dan tingkat seseorang. Ketika aku mengumumkan pemakaian bahasa Indonesia, kami memerlukan satu sebutan yang dapat dipakai secara menyeluruh untuk kalangan tua dan muda, kaya dan miskin, presiden dan rakyat kecil. Di saat itulah kami mengembangkan sebutan Pak atau Bapak, Bu atau Ibu, dan Bung yang berarti saudara. Selama masa dari kebudayaan inilah aku mulai dikenal sebagai Bung Karno.” Kesaksian Soekarno itu mengabarkan peristiwa yang terjadi di medio kedua tahun 1926, setelah ia pensiun dari guru dan menjadi pengkhotbah ulung. Bung dalam pengertian Soekarno adalah saudara.


Sejak saat itu, sapaan Bung semakin akrab di pelbagai kalangan. W.R. Soepratman dan Soegondo Djojopoespito ketika bercakap-cakap di Kongres Pemuda Indonesia Kedua, 28 Oktober 1928, pun saling menyapa dengan sapaan Bung tanpa mempertimbangkan usia dan jabatan satu sama lain. “Bagaimana Bung Gondo?” tanya W.R. Soepratman kepada Soegondo Djojopoespito saat meminta izin untuk memperdengarkan lagu berjudul Indonesia di hadapan peserta kongres. Lagu itu cikal bakal lagu nasional Indonesia Raya. Soegondo agak ragu. Ia khawatir kongres akan dibubarkan polisi Belanda sebab syair lagu mengandung kalimat, “untuk Indonesia Raya”. Soegondo mengembalikan naskah lagu Indonesia sambil bertanya, “Bung Pratman nanti selain bermain biola, apa juga mau menyanyikannya sendiri?” Percakapan dua tokoh itu jadi bukti, masa itu sapaan Bung telah akrab digunakan orang (B. Soelarto, 2007).


Seiring berjalannya waktu, sapaan Bung yang berasal dari bahasa Indonesia dialek Jakarta itu menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Bahkan, menurut George McTurnan Kahin (1995: 175), Bung adalah simbol revolusioner Indonesia yang lebih meluas ketimbang penyebaran dan pengabaran Undang-Undang Dasar 1945 pada masa-masa awal kemerdekaan. Kata itu, “dalam arti kasar bisa dibandingkan dengan kata ‘citizen (rakyat)’ dalam Revolusi Perancis atau ‘kamrad’ di Rusia. …. Gagasan yang dikandungnya mungkin paling dapat dianggap sebagai suatu sintesa dari ‘saudara revolusioner’, ‘saudara nasionalis Indonesia’, dan ‘saudara Republiken’. Tua dan muda, kaya dan miskin. Presiden dan petani boleh dan biasanya saling memanggil dengan sebutan ini.”


Penyair sekaligus pelopor angkatan 45, Chairil Anwar bahkan tak segan menggunakan kata Bung dalam sajak-sajaknya. Simaklah cuilan sajak Kerawang-Bekasi yang disadur pada 1948: Kenang, kenanglah kami/ Teruskan, teruskanlah jiwa kami/ Menjaga Bung Karno/ menjaga Bung Hatta/ menjaga Bung Sjahrir. Namun sama wajarnya dengan masa popularitas kata-kata yang lain, hanya bertahan sementara. Popularitasnya memudar dan mengalami suatu hari yang nahas. Soekarno yang dianggap memperkenalkan dan mempopulerkan kata sapaan itu tak lagi nyaman dipanggil Bung. Ia lebih suka dipanggil “bapak” dalam percakapan informal dan disebut Paduka yang Mulia Presiden pada upacara resmi maupun pemberitaan di media massa (Umar Kayam, Tempo, 1979). Situasi itu semakin diperparah dengan politik “Bapakisme” yang dianut pemerintahan Orde Baru. Soeharto pun lebih kita kenal dengan sebutan “Pak Harto” ketimbang “Bung Harto”.


Sekian contoh pemakaian kata sapaan Bung, semuanya ditujukan pada laki-laki: Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Bung Gondo, Bung Pratman. Kaum perempuan tak bisa dipanggil menggunakan kata Bung yang revolusioner itu. Hal inilah yang, barangkali, membuat Harmoko saat menjabat sebagai Menteri Penerangan merasa gelisah, galau, dan merana. Kata putra telah bertemu putri, siswa berjodoh dengan siswi, pemuda bergandengan tangan sama pemudi, dan kamu masih jomblo, Bung? Harmoko pun berkehendak menjadi makcomblang kata Bung. Pada 7 Februari 1992, dalam pertemuan dengan para pimpinan redaksi pelbagai media dan Perhimpunan Wartawan Indonesia, Menteri Harmoko mengusulkan panggilan bagi para wanita sebagai pasangan dari kata revolusioner Bung adalah Rung. Ide perjodohan Bung dengan Rung muncul setelah Harmoko mendapat sepucuk surat dari Sumatra Selatan. Konon, menurut surat itu, wanita di suatu daerah di Sumatra Selatan sering dipanggil dengan sebutan Rung (Tempo, 15 Februari 1992).


Usulan menguap. Cinta itu tak bisa dipaksakan. Bung tak juga berjodoh dengan Rung. Bahkan, di saat gerakan feminisme semakin menunjukkan keberadaannya, di kala perempuan semakin memperjuangkan kesetaraannya dengan kaum laki-laki, sapaan Bung masih belum memiliki pasangan yang sepadan buat menyapa kaum perempuan. Sekalipun sapaan Bung telah dianggap revolusioner lantaran bisa membebaskan orang dari latar belakang suku, ras, agama, usia, maupun kedudukan, nyatanya ia masih tak mampu menembus batas-batas jenis kelamin. Sapaan Bung pun kalah revolusioner dari sapaan Kakak yang sering diucapkan karyawan toko-toko di mal, minimarket, rumah makan, dan lain-lain. Sebutan Kakak, tak membedakan laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, direktur atau pedagang kaki lima, orang Jawa atau Sunda, Islam atau Kristen, berkulit putih atau berwarna, Bung! []