“Petak Umpet Sastra Anak” (7-16 November 2025) merupakan pameran arsip dan ilustrasi sebagai bentuk penghormatan kepada penulis sastra anak asal Batu, Jawa Timur, Dwianto Setyawan, yang wafat pada 1 Juni 2024. Pameran ini digagas oleh kerja sama antara Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), dan Museum Anak Bajang. Pameran ini diharapkan tidak hanya menjadi jembatan untuk menyusuri perjalanan sastra anak Indonesia melalui karya-ketokohan Dwianto Setyawan. Juga menjadi ruang diskusi yang dinamis, pameran mempertemukan semua pihak dalam ekosistem perbukuan anak; penulis, ilustrator, editor, penerbit, pelajar, pemerhati literasi anak, dan tentu pembaca cilik maupun dewasa.
“Petak Umpet Sastra Anak” (November 7-16, 2025) is an exhibition of archives and illustrations as a form of tribute to the children's literature writer from Batu, East Java, Dwianto Setyawan, who passed away on June 1, 2024. This exhibition was initiated by a collaboration between Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Publisher Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), and the Bajang Children's Museum. This exhibition is expected to not only be a bridge to explore the journey of Indonesian children's literature through the works and character of Dwianto Setyawan. Also becoming a dynamic discussion space, the exhibition brings together all parties in the children's book ecosystem: authors, illustrators, editors, publishers, students, children's literacy observers, and of course young and adult readers.

| Commissioner Penerbit KPG Museum Anak Bajang |
| Assignment Concept Curatorial |
| Year 2025 |
| Curator Han Widyono, Nai Rinaket, Setyaningsih |
| Together with Harmanto (production), Aryani Wahyu (photo), Jepri Ristiono (photo, video), Nai Rinaket (design) |
Petak Umpet Sastra Anak mengisyaratkan bahwa ada yang bersembunyi dalam lalu lalang perbukuan di Indonesia. Ia yang bersembunyi,sejatinya kita kenal dan sama-sama tahu sebab sebelum permainan petak umpet dimulai, semua yang terlibat dalam permainan berkumpul dalam satu lingkaran. Ia ada, hanya saja tidak tampak. Ia boleh jadi dianggap tidak ada. Namun anggapan itu ternyata tak bisa menafikan keberadaannya.
Setelah melakukan hompimpa, yang menang akan bersembunyi. Kita, yang kalah, yang “dadi”, mesti mulai berhitung lalu mencari teman-teman yang terlibat dalam petak umpet. Dalam perumpamaan semacam itu, kita,/orangtua atau orang dewasa, perlu segera berhitung dan mencari bacaan-bacaan yang layak untuk kita wariskan kepada anak-anak. Pencarian yang paling mungkin dilakukan yakni membuka arsip dan tumpukan buku-buku kita di rumah, sebelum ke perpustakaan atau toko buku.
Kerja-kerja semacam itulah yang kiranya yang dilakukan para ilustrator dan tim kurator Pameran Arsip dan Ilustrasi bertajuk “Petak Umpet Sastra Anak” ini. Para Ilustrator “dipaksa” membaca lagi bukubuku bacaannya masa lalu sebelum menyajikan imajinasi dalam karya visual. Sementara tim kurator berupaya menyisir arsip sekaligus buku-buku koleksi pribadi dari masa kelahiran Pak Lik dan Bu Lik kami untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai sastra anak Indonesia yang terlintas di kepala.
Setelah melewati proses tersebut, kami sedikit menyadari bahwa proyek pengadaan buku bacaan Inpres masa Orde Baru tak semuanya berkualitas buruk, bahwa tidak banyak penerbit yang berani mempertarungkan idealisme dan tren bukularis, bahwa selalu saja ada penulis dan ilustrator yang sepenuh hati ingin membangun kualitas sastra anak tanah air,bahwa penghargaan sastra anak dalam negeri masih perlu diperjuangkan, bahwa buku-buku sastra anak yang berkualitas dari masa silam penting untuk terus diadakan.
Meski begitu,sampul-sampul buku atau ilustrasi yang ditampilkan sebagai “wajah” dalam pameran ini bukanlah pernyataan “terbaik”. Mereka ialah pemberi warna. Karya-karya yang baik maupun yang buruk merupakan bagian integral dari ekosistem sastra anak Indonesia secara keseluruhan. Rasanya permainan “Petak Umpet Sastra Anak” ini masih berlangsung dan kita memang masih harus mencari.
Yogyakarta, 7 November 2025
Kurator